Sebar duit ratusan juta

Anda tahu orang indonesia sebar duit hingga ratusan juta? Dialah Tung Desem Waringin. Baca profile Tung Desem Waringin disini.

Pemecah recor penggemar terbanyak

Motivator Mario Teguh mengukuhkan rekor dunia fan Facebooknya yang beranggotakan lebih dari satu juta orang. Pencapaian ini tidak hanya menjadi rekor di Indonesia, melainkan juga merupakan rekor dunia untuk motivator dengan penggemar terbanyak.

Kick Andy always present

the spirit with most inspiring human's stories, masuk dalam museum rekor-Dunia Indonesia 2010, Acara televisi Paling Menjunjung Tinggi Nilai Kemanusiaan..

Semangat juang Andrie Wongso

Sukses secara mental dalam memperjuangkan impian menjadi kenyataan.

Visidigital multimedia sharing website

Website multimedia sharing berbasis php, menggunakan engine phpmotion

Visit this site.

Showing posts with label Renungan Gede Prama. Show all posts
Showing posts with label Renungan Gede Prama. Show all posts

Bunga Kedamaian

Banyak sekali sahabat yang masa tuanya serupa pohon yang layu. Ia tidak saja gagal menjadi tempat berlindung bagi dirinya, juga tidak berhasil menjadi payung bagi generasi berikutnya. Sebagai akibatnya, kehidupan sangat kekurangan tempat berteduh.

Ruang Gelap Di Dalam

Osho sering menggunakan bahasa ekstrim. Di salah satu kuliahnya, Osho pernah bercerita kalau kebanyakan manusia hanya bertumbuh sampai umur tujuh tahun. Selebihnya tidak ada pertumbuhan. Buktinya, sekali lagi menurut Osho, coba saja lukai hati orang yang berumur delapan puluh tahunan, reaksinya akan menyerupai anak-anak yang berumur enam tahun.

Tentu saja tidak semua orang seperti itu. Ia amat tergantung pada kedalaman penggaliannya di dalam. Jika tidak menggali ke dalam, kemudian memiliki banyak ruang gelap di dalam, cerita Osho benar, semakin tua manusia maka semakin menakutkan hidupnya. Sebaliknya, bila ruang-ruang gelap di dalam diterangi cahaya kesadaran, semakin tua hidup ia akan menampakkan wajah yang semakin indah.

Indahnya cahaya kesadaran, ia menerangi kegelapan di dalam tidak dengan cara menendang dan membuang, melainkan dengan cara menjumpainya seperti menemui seorang sahabat. Itu sebabnya, di zaman dulu sekali sejumlah praktisi Tantra melakukan meditasi di kuburan dan tempat-tempat sangat menakutkan. Ini bukan untuk gagah-gagahan, melainkan belajar menjumpai rasa takut di dalam. Terutama karena waktu kematian akan menemui wajah ketakutan yang jauh lebih menakutkan.

Lentera Kesadaran

Siapa saja yang kerap memasuki ruang-ruang gelap di dalam mengerti, ketakutan, keraguan, kemarahan dan sejenisnya, ia bukan setan melainkan bagian integral dari diri kita sendiri. Ruang di dalam ini sangat menakutkan karena ia mirip salah satu kamar di rumah yang lama tidak dimasuki, tidak dibuka jendelanya, dan dari dulu sekali dibikinkan cerita-cerita mengerikan tentang ruang ini. Sebagai akibatnya, semakin hari ruangan itu semakin menakutkan.

Melalui praktik meditasi mendalam, semua ruang-ruang gelap di dalam ini dimasuki, dijumpai, dilihat apa adanya. Awalnya sangat menakutkan tentu saja, tetapi begitu ia didatangi dengan ketenangan, ketulusan dan keikhlasan, tidak ada hal yang berbahaya di sana. Ia adalah perjumpaan antara diri kita yang lama dan penuh kegelapan dengan diri kita yang lebih utuh. Itu sebabnya, para sahabat di kelas meditasi kerap dibimbing dengan pesan sederhana tapi mendalam: “terima, mengalir, senyum”.

Dalam bahasa psikolog Sigmund Freud, langkah-langkah ini disebut menerangi alam bawah sadar. Meminjam psikolog. Carl G. Jung, pendekatan ini serupa dengan menjumpai bayangan yang mengikuti sang jiwa kemana pun jiwa pergi. Di jalan Tantra, ini cara membuka lapisan-lapisan yang membungkus bagian diri kita yang tidak pernah lahir dan tidak pernah mati.

Purnama Cinta

Ruang gelap pertama di dalam yang biasanya diterangi lentera kesadaran adalah keraguan. Ruang gelap berikutnya adalah ketakutan. Dan tatkala kebanyakan ruang gelap di dalam sudah terterangi, kemudian seseorang akan tersenyum malu. Ternyata semua keraguan dan ketakutan hanya tali yang dikira ular. Karena gelap maka dikira yang ada di sana adalah makhluk menakutkan. Begitu terang, tidak ada satu pun makhluk menakutkan di sana.

Seorang sahabat yang sudah terang di dalamnya memiliki pengandaian indah: “Diri kita yang utuh serupa bulan purnama. Bagian gelapnya itulah keraguan dan ketakutan. Bagian terangnya adalah cinta”. Ini yang menerangkan kenapa orang-orang yang sampai di sini kemudian rindu sekali berbagi cahaya cinta.

Sebagian dari pencari jenis terakhir berjumpa pengalaman mistik, ada yang berjumpa pengalaman religius, ada juga yang berjumpa pengalaman pencerahan. Dalam pengalaman mistik, seseorang melihat dengan mata sendiri kalau ada kesakralan di alam ini yang sulit diterangkan. Kesakralan ini kemudian melahirkan rasa hormat, bakti, sujud yang membuat seseorang menjadi sangat religius. Di puncak religiusitas, seseorang mengalami pencerahan. Sederhananya, ia mirip dengan drum yang bagian bawahnya jebol. Kemudian tidak ada lagi luar dan dalam, tidak ada lagi yang menyembah dan yang disembah. Di titik itulah kehidupan mekar sebagai bunga kedamaian. Orang seperti inilah yang menjadi pohon tempat berteduh bagi banyak jiwa-jiwa yang gelisah.

Merenda Kedamaian

Jika saja kedamaian bisa dibeli dengan uang, semua orang kaya mau membelinya. Sayangnya, kedamaian tidak bisa dibeli dengan uang, kedamaian hanya bisa ditemukan dengan menggali ke dalam.


Rahim Berkecukupan

Serupa bayi yang mau lahir, rahim dari mana bayi kedamaian akan lahir bernama berkecukupan. Sulit membayangkan ada kedamaian mendalam tanpa rasa berkecukupan. Tidak saja rasa berkecukupan dari uang dan pujian, juga berkecukupan dari pengetahuan dan pencapaian spiritual.

Soal uang dan pujian menimbulkan sengsara sudah sering kita dengar. Tapi di jalan spiritual mendalam, pencarian pengetahuan yg teramat berlebihan, keinginan untuk mencapai ini dan itu (termasuk pencerahan) sudah menjadi sumber penderitaan yang juga dalam. Sebagaimana diketahui oleh banyak penekun spiritual, bahkan di dunia spiritual pun ada lautan ketidakpuasan.

Belajar dari sini, tidak ada pilihan lain terkecuali mendidik diri dengan rasa berkecukupan secara mendalam. Barat adalah Guru yang baik. Di sana materi dikejar kencang sekali, di sana juga pencerahan dikejar keras sekali, hasilnya bisa dilihat dari indeks kebahagiaan mereka. Pelajarannya sederhana, kedamaian bukan sesuatu yang mesti dikejar. Kedamaian adalah buah dari rasa berkecukupan yang mendalam.

Perawat Bernama Kebersatuan

Setelah bayi kedamaian lahir, ia memerlukan perawatan. Dan sebagaimana kerap diungkapkan dalam banyak sesi meditasi, penderitaan (suffering) adalah rasa sakit (pain) dikalikan dengan penolakan (resistance). Sehingga modal terbesar dalam merawat bayi kedamaian adalah dengan mengecilkan penolakan. Semakin kecil penolakannya, semakin kecil penderitaannya.

Di jalan spiritual mendalam ada transformasi besar dari angka dua ke angka satu, kemudian berujung pada angka nol. Awalnya manusia berada di angka dua (penyembah dan yg disembah, saya dan Anda, kami dan kamu, teman dan lawan). Pertumbuhan spiritual (dengan jalan bakti, meditasi, doa, dll) kemudian membuat angka dua cair menjadi angka satu. Cirinya sederhana, ada penderitaan kita dalam penderitaan orang lain, ada kebahagiaan kita dalam kebahagiaan orang lain.

Inilah pengalaman kebersatuan, ia perawat terbaik bagi bayi kedamaian yang baru saja lahir. Di jalan meditasi kerap terdengar, kedamaian adalah langkah, langkah adalah kedamaian. Bagi yang sudah menyatu mengerti, saat kita makan kita hanya makan. Tatkala kita menyapu kita hanya menyapu. Bahkan ada yang memiliki ungkapan indah: “mencuci piring hanya untuk mencuci piring”. Dengan cara ini, bayi kedamaian tumbuh sehat dalam dekapan perawat bernama kebersatuan.

Kupu-Kupu Kedamaian

Suatu hari tatkala kesedihan menggoda demikian dalamnya, pernah ditanyakan ke Guru di dalam, kenapa ada kesedihan? Tidak lama kemudian seekor kupu-kupu indah hinggap di tangan. Pesannya sederhana, batin menderita seperti kodok yang lompat sana lompat sini dan tidak menemukan madu kedamaian. Kupu-kupu tidak perlu lompat sana-sini, ia langsung terbang ke titik pusatnya bunga. Di sana ia menemukan madu kedamaian.

Ini mirip dengan warisan ahli mitologi Joseph Campbell: “there’s center of quietness within, if you lose that center you begin to fall”. Ada titik pusat keheningan dan kedamaian di dalam. Siapa saja yang istirahat sempurna di titik pusat ini, ia tidak saja menemukan kedamaian, ia adalah kedamaian itu sendiri.

Inilah bayi kedamaian yang sudah dirawat rapi oleh perawat kebersatuan, kemudian bertumbuh menjadi kupu-kupu indah. Jiwa seperti ini serupa kupu-kupu. Ia terbang ke sana ke mari mewakili keindahan kedamaian. Kalau pun ia harus hinggap, ia tahu di mana madu kedamaian berada. Selamat datang di rumah jiwa-jiwa yang indah.

Sekolah Kedamaian

Awalnya, masyarakat diciptakan untuk membuat kehidupan lebih tertata. Tapi sulit diingkari belakangan masyarakat menimbulkan banyak lubang-lubang jiwa. Angka bunuh diri, penghuni rumah sakit jiwa, depresi, korupsi, konflik yang semuanya meningkat memberi bukti akan hal ini. Sepertinya terjadi ketidakseimbangan tatanan di masyarakat. Sehingga menimbulkan pertanyaan, di mana jiwa bisa menutupi lubangnya?

Keluarga Di Dalam

Di antara demikian banyak Guru simbolik yang tersedia di alam, kelahiran adalah salah satu simbol penting. Dan kita semua terlahir di keluarga. Sehingga di tengah kegalauan masyarakat seperti ini, tiap kali ada murid meditasi yang berkonsultasi untuk bercerai, selalu tidak diizinkan. Bukan karena mau memberi judul negatif terhadap perceraian, sekali lagi bukan. Melainkan karena di balik semua perceraian adalah jiwa yang tidak dewasa.

Bila jiwanya tidak dewasa, bahkan seribu kali pun berganti pasangan, maka seseorang akan selalu mengundang datangnya pasangan yang tidak dewasa (hukum daya tarik). Disamping itu, di mata jiwa yang tidak dewasa maka orang lain pun terlihat tidak dewasa. Untuk itu, dibandingkan bercerai yang bisa menimbulkan luka jiwa ke banyak orang, selalu disarankan untuk membuat jiwa semakin dewasa.

Dan kesedihan, kepedihan, penderitaan adalah Guru terbaik yang tersedia di alam untuk membuat jiwa jadi lebih dewasa. Syaratnya sederhana, jangan lari dari kesedihan, tunduk sujud di depan kesedihan seperti sujud bakti kepada Guru. Makanya sering diungkapkan, kesedihan adalah malaikat di dalam yang membimbing seseorang menjumpai lapisan-lapisan diri yang lebih dalam. Begitu penggalian seseorang dalam, ia akan berjumpa keluarga di dalam sebagai syarat membangun keluarga di luar.

Rumah Tua Jiwa

Awalnya emosi negatif seperti marah dan tersinggung mirip dengan musuh berbahaya. Awalnya pikiran yang kacau dan bergelombang serupa pencuri yang mencuri kekayaan kedamaian di dalam. Tapi begitu disentuh meditasi mendalam melalui kegiatan menyaksikan, emosi negatif dan pikiran bergelombang hanya bel-bel yang mengingatkan seseorang untuk kembali sadar.

Dengan modal kesadaran seperti ini, kemudian lebih mudah menata keluarga sebagai rumah tuanya jiwa. Anak-anak yang nakal, pasangan hidup yang memasuki krisis setengah baya, orang tua yang sakit-sakitan, pembantu yang sering pergi, semuanya menjadi kekuatan yang memperkuat (bukannnya memperlemah) kesadaran.

Diterangi cahaya kesadaran seperti ini, baru kemudian keluarga bisa dikembalikan ke fungsi awalnya sebagai rumah tua jiwa. Ia seperti pelabuhan bagi kapal laut. Di mana semua lubang yang membuat kapal bocor ditambal, semua cat yang mengkarat dicat ulang. Keluarga yang sehat juga serupa, ia bukan seperti turnamen sepakbola yang ada menang-kalahnya. Ia adalah sebuah rumah di mana kita semua belajar saling memaafkan dan saling menyayangi. Ringkasnya, semacam sekolah kedamaian.

Taman Keluarga

Serupa taman yang indah dan cantik, keluarga juga jadi indah dan cantik kalau kita menggunakannya sebagai tempat untuk saling menyempurnakan. Bukan sebagai tempat untuk saling menyalahkan. Sebagaimana taman, di mana ada rumput di sana ada rumput liar. Di mana ada kelebihan di sana ada kekurangan. Indahnya, tatkala sifat alami kehidupan seperti ini diterima dan di dekap, ada kecantikan dari dalam yang tumbuh serta mekar. Cirinya, rumput liar tetap dicabut tapi tanpa keluhan apa-apa.

Bedanya dengan taman di luar, di taman keluarga siapa yang menanam bibit-bibit cinta maka dialah yang jiwanya mekar. Bagi setiap jiwa yang mekar, ia akan mengerti, ternyata tindakan-tindakan baik setiap hari adalah cara terbaik untuk membangunkan kecantikan yang tersedia di dalam.

Dengan cahaya kecantikan dari dalam ini, kemudian keluarga bisa ditata menjadi tempat di mana lubang-lubang jiwa ditambal, kekurangan bisa disempurnakan. Sebagai akibatnya, keluarga bisa berperan besar dalam membuat tatanan masyarakat menjadi lebih baik. Meminjam pengalaman spiritual sejumlah sahabat: “bila di dalam seseorang tertata, maka dunia juga dalam tatanan”

Liburan Sesungguhnya

Menyusul ketidakpastian cuaca serta maraknya kekerasan di mana-mana, banyak yang bertanya apa benar ilmu pengetahuan telah membuat manusia semakin beradab? Apa benar spiritualitas sudah membuat manusia semakin lembut?

Bertanya tentu saja baik. Namun bila boleh jujur, kekerasan dan ketidakpastian hadir di setiap putaran waktu. Termasuk di zaman ketika para nabi lahir. Sehingga menuduh berlebihan bahwa kekerasan dan ketidakpastian hanya hadir di zaman ini saja, sungguh sebuah masukan untuk mendalami sejarah lebih dalam lagi. Bedanya dengan orang kebanyakan, para bijaksana mengolah kekerasan dan ketidakpastian sebagai bahan-bahan pertumbuhan. Seperti peramu tetumbuhan yang mengolah akar beracun menjadi obat.

Menyangkut sesuatu yang hadir di setiap zaman, serta manusia tidak bisa menghindarinya, tidak ada pilihan lain kecuali  mendidik  diri  untuk cerdas mengolah putaran zaman. Ini juga dilakukan oleh pemimpin-pemimpin agung. Mahatma Gandhi tidak lari dari ancaman senjata tentara Inggris. Nelson Mandela tidak bergeming ketika dipenjara selama dua puluh tujuh tahun. Bunda Teresa berjalan terus ketika dituduh keras kepala. Dan ada yang sama dari pemimpin-pemimpin agung ini, yakni kecermatannya untuk mengolah racun zaman menjadi tauladan zaman.

Disamping itu, sepanas dan sekeras apa pun kehidupan, mereka semua selalu kembali pada payung kelembutan. Tidak saja karena itu diajarkan semua agama dan semua nabi, melainkan karena kelembutanlah sifat alami semua mahluk di alam ini. Perhatikan binatang paling ganas sekalipun seperti harimau dan serigala. Tanpa takut akan neraka dan serakah akan surga, mereka juga menyayangi anak-anaknya. Dan menemukan kebahagiaan dalam kegiatan menyayangi.

Itu sebabnya, mahluk disebut tercerahkan bila ia sudah termurnikan dan tersempurnakan. Maksudnya, sudah kembali ke sifat alaminya yang penuh kasih sayang. Dalam bahasa lain, sudah balik pulang ke payung kelembutan. Kemudian tidak saja sejuk memayungi diri, juga lembut memayungi orang lain. Ini yang menyebabkan kenapa sebagian orang kaya Indonesia berobatnya ke Singapura, sebagian orang berduit menyekolahkan putera-puterinya ke Australia, sebagian orang berpunya merasa lebih aman menyimpan uangnya di Swiss. Tidak ada hal lain yang dicari kecuali mau berteduh sejuk dan aman di bawah payung kelembutan.

Manajemen rumah sakit sebagai contoh, sudah lewat zamannya di mana dokter hanya memandang pasien dengan tatapan mata pas-pasan. Sekolah sebagai contoh lain, akan pasti ditinggalkan bila guru dan dosennya hanya meminta murid   jadi   tukang   foto   kopi.   Bank  lebih-lebih lagi. Tanpa payung kelembutan, di luar negeri ada berlimpah bank yang menyediakan payung pelayanan penuh kelembutan.

Bercermin dari rangkaian bukti seperti ini, kendati sudah terlambat, tidak ada salahnya untuk segera mendidik diri dan organisasi untuk senantiasa pulang berteduh ke sifat alami semua mahluk yang bernama payung kelembutan. Seorang guru yang sudah lama pulang, aman, nyaman dalam lindungan payung kelembutan pernah menulis: “Whenever there is a moment of being content, whenever there is a moment of feeling this is all right, that is a moment of happiness“. Apa pun boleh terjadi dalam kehidupan, namun bila manusia senantiasa melatih diri merasa berkecukupan, dan mengatakan semuanya baik-baik saja, itulah saat-saat yang membahagiakan.

Tidak semua orang kaya bahagia, kerap orang kaya  lebih sulit menemukan payung kelembutan, karena kekayaan membuat seseorang sulit merasa berkecukupan. Yang lebih celaka bila orang miskin  serakah. Kehidupan kemudian berputar dari satu kejahatan ke kejahatan lain. Makanya ada yang berbisik, kebutuhan sesungguhnya sedikit. Namun keinginan tidak ada ujungnya. Seorang sahabat yang telah lama menyatu dengan payung kelembutan berpesan: whenever we feel deeply at ease with ourselves, that is the true holiday. Tatkala seseorang berpelukan rapi dengan kelebihan sekaligus kekurangannya, itulah liburan sesungguhnya.

Bahan renungan:

1. Kelembutan adalah sifat alami semua mahluk. Bahkan singa dan harimau menyusui keturunannya dengan kelembutan dan menemukan kebahagiaan di sana.

2. Ia yang keras mendidik diri  sendiri agar lembut ke orang lain, bahkan keras mendidik diri agar lembut ke orang yang menyakiti sekali pun, sesungguhnya sudah pulang.

3. Di rumah seperti inilah, manusia bisa menemukan liburan yang sesungguhnya.

Menyejukan Kemarahan

Terinspirasi dari Anthony de Mello, suatu waktu ada gadis desa yang hamil tanpa suami. Tentu saja orang tuanya mengamuk, kemudian memaksa agar puterinya menunjuk lelaki yang menghamilinya. Di tengah kekalutan, remaja belasan tahun ini kemudian menunjuk orang tua bijaksana  di pinggir hutan. Dan marahlah warga desa, kemudian ramai-ramai menyerahkan gadis hamil ini. Di tengah amukan dan cacian warga, orang tua bijaksana ini menerima gadis hamil tadi dengan  berucap tenang: “baiklah!”.

Bertahun-tahun gadis hamil ini dirawat baik. Tanpa keluhan, tanpa keributan, tanpa kemarahan. Merasa dirinya diperlakukan sangat baik, ibu muda ini dihinggapi rasa bersalah mendalam kepada orang tua bijaksana tadi. Kemudian mengaku ke orang desa bahwa bukan orang tua bijaksana  itu  yang  menghamilinya, melainkan sejumlah lelaki tidak bertanggungjawab. Maka kembalilah warga desa ke pinggir hutan sambil minta maaf. Lagi-lagi orang tua bijaksana ini berucap pelan: “baiklah”.

Di mata kepintaran, orang tua bijaksana ini  masuk kotak kebodohan, tapi di mata mahluk tercerahkan orang tua ini sudah mengalami kesempurnaan kesabaran sebagai ciri mahluk tercerahkan.

Bila boleh jujur, keseharian manusia  di mana-mana penuh kemarahan. Di Amerikat Serikat daftar kemarahan pada Barrack Obama semakin panjang. Di negeri ini, kemacetan jalan, politisi yang miskin empati, sampai korupsi yang menyentuh hati menjadi api pembakar kemarahan. Lebih-lebih ketika bencana, kemarahan pengungsi, kemarahan media, kemarahan pengamat semuanya tumpah pada tuduhan pemerintah yang lamban. Ujungnya mudah ditebak, api yang mau dipadamkan dengan api berakhir dengan keseharian yang semakin terbakar.

Merawat Kemarahan

Sejujurnya tidak ada manusia yang berniat marah. Kendati demikian, tetap saja kita digoda kemarahan. Bila digali lebih dalam, sesungguhnya manusia mewarisi bibit-bibit kemarahan dari orang tua, sekolah, lingkungan. Bibit-bibit ini kemudian disirami dengan menonton televisi yang berisi perkelahian, radio yang memberitakan kebencian, media cetak yang laris justru dengan berita kriminalitas, pemimpin yang miskin keteladanan. Sehingga tanpa perbaikan serius, manusia akan terus dibakar kemarahan.

Berbeda dengan logika sebagian ilmu kedokteran Barat yang membuang organ tubuh bermasalah,  meditasi mengajarkan untuk merawat kemarahan. Tatkala sakit kepala tidak mungkin seseorang membuang kepalanya. Melainkan  merawat kepalanya, kemudian baru kesembuhan mungkin terjadi. Hal serupa  terjadi dengan kemarahan, membuang kemarahan serupa membuang malam dan hanya mau siang.

Merawat bibit kemarahan bisa dilakukan dengan berbagai cara. Memandang kemarahan secara mendalam adalah sebuah pendekatan. Sejujurnya kemarahan terjadi bukan karena godaan orang, melainkan lebih banyak terjadi karena kita sudah memiliki bibitnya di dalam. Godaan yang datang dari luar serupa angin yang meniup jerami yang sudah terbakar. Dengan demikian, memarahi mereka yang menimbulkan  kemarahan serupa dengan mengejar orang yang melempar rumah kita yang berisi bensin dengan api. Begitu balik, rumahnya sudah terbakar habis.

Karena itulah, lebih disarankan untuk merawat bibit kemarahan yang ada di dalam. Tolehlah ke dalam ketika kemarahan datang, belajar tersenyum karena senyuman menandakan Anda jadi tuan bukan korban kehidupan. Setelah tersenyum, tarik nafas pelan-pelan, rasakan segarnya hidung ketika udara masuk. Bila boleh jujur, ada rahasia kesegaran, ketenangan, kebeningan di balik ketekunan memperhatikan nafas. Disamping itu, nafas membantu manusia terhubung dengan saat ini. Karena sebagaimana kita tahu, masa lalu sudah lewat, masa depan belum datang, satu-satunya uang tunai kehidupan yang bisa dinikmati dan disyukuri adalah saat ini. Makanya, dalam bahasa Inggris masa kini disebut the present (hadiah). Indah, sejuk, lembut, penuh persahabatan dan kasih sayang, itulah hadiah buat mereka yang rajin terhubung dengan kekinian melalui memperhatikan nafas.

Di samping memperhatikan nafas, bibit kemarahan juga bisa dirawat dengan meditasi jalan. Terutama dengan melihat hakekat semua fenomena (termasuk kemarahan) yang muncul lenyap sebagaimana langkah kaki. Membadankan dalam-dalam bahwa semuanya muncul lenyap bisa menjadi awal terbukanya pintu kebebasan.

Sebagai tambahan, mengerti dengan penuh belas kasih bahwa orang yang menyakiti sesungguhnya sedang menderita, adalah pendekatan lain. Ia yang bisa melihat penderitaan orang yang menyakiti, mengalami transformasi di dalam. Dari mau menghukum menjadi mau menolong.

Keindahan Bumi

Banyak orang memimpikan tanah suci. Semacam tanah yang penuh kebahagiaan sekaligus tanpa penderitaan. Namun bagi ia yang memandang secara mendalam, membuka pintu belas kasih, tanah suci bukan saja tempat yang bisa ditemukan setelah kematian. Di bumi ini manusia bisa menemukan tanah suci. Meminjam Thich Nhat Hanh, bukan berjalan di atas air menjadi keajaiban, berjalan di atas bumi menjadi keajaiban. Terutama dengan merasakan setiap langkah berisi belaian belas kasih Ibu pertiwi.

Ini mungkin terjadi, bila pertama-tama tentu belajar menyejukkan kemarahan karena kemarahan  membuat bumi penuh api. Setelah kemarahan tersejukkan terlihat terang, kita semua sama yakni mau bahagia dan tidak mau menderita. Lebih mudah membuat bumi ini sejuk dengan melihat kesamaan-kesamaan dibandingkan bertempur tentang perbedaan.

Makanya, ketika seorang ayah ditanya putranya apakah tanah suci berisi penderitaan, dengan lembut ayahnya menjawab: “Tanah suci berisi penderitaan. Bedanya, di tempat ini penderitaan sudah diolah menjadi pupuk organik yang sudah diletakkan di bawah pohon bunga”. Inilah puncak kegiatan menyejukkan kemarahan, semua hal yang dibenci diolah menjadi pupuk organik pengertian. Kesedihan adalah sampah, namun bila bisa mengolahnya akan menjadi bunga pencerahan kemudian. Kebahagiaan adalah bunga, tapi jika tidak mampu merawatnya bisa menjadi sampah kesedihan kemudian.

Membuka Pintu Kehidupan

Memasuki kantor cabang bank akhir-akhir ini, nyaris semua petugas keamanan membukakan pintu lengkap dengan senyumannya. Petugas keamanan bank seperti memberi inspirasi bagaimana membuka pintu kehidupan. Dulu, suasana seperti itu hanya ada di hotel berbintang lima.

Bila boleh bersyukur, inilah tanda-tanda kemajuan peradaban. Dunia korporasi tidak saja sedang mengeruk kekayaan materi masyarakat, namun juga menjadi kekuatan untuk membuat kehidupan menjadi lebih baik.

Ini menggembirakan, karena berbeda dengan puluhan tahun lalu di mana dana penelitian dan pengembangan (sebagai barometer ke mana masa depan akan dibawa) terkonsentrasi di pemerintahan, belakangan bergeser ke dunia korporasi.

Bila penentu masa depan juga memikirkan peradaban, tidak saja  kekayaan  materi,  sungguh sebuah kecenderungan yang membahagiakan. Setidak-tidaknya kita akan mewariskan kehidupan yang lebih beradab ke generasi berikutnya.

Akan lebih membahagiakan lagi bila dunia perbankan juga memikirkan, tidak saja mengambil keuntungan, melainkan juga memfasilitasi karyawannya menjadi motor perubahan menuju masyarakat yang jujur, berintegritas dan penuh pelayanan. Di mana-mana di dunia ini sekarang, amat berat bila meletakkan harapan perubahan hanya pada pemerintah. Tidak saja birokrasi menjadi pihak yang paling sulit untuk dirubah, namun semakin sedikit tenaga potensial yang tertarik berkarir di birokrasi. Dalam bahasa Franz Kafka, semua revolusi berhenti di birokrasi yang mandek tidak berubah.

Dalam perspektif ini, dunia perbankan dan korporasi memberi harapan akan perubahan kualitas peradaban. Cuman, tidak semua kecenderungan menggembirakan. Sebelum meletus bom teroris di Bali, suasana hotel di Bali terasa sangat beradab. Sanur, Kuta, Nusa Dua, Ubud suasana hotelnya mirip sekali dengan peradaban di Australia, Jepang dan Eropa. Rapi, teratur, tenang, saling menghormati, penuh senyuman. Namun sekarang, ketika tamu sarapan pagi terlihat jelas, di atas makanan yang disediakan ada peringatan: “Not to be taken away“. Makanan dan minuman hanya dimakan di sini, tidak untuk dibungkus dibawa pergi. Lebih dari itu, suasananya sudah mendekati pasar tradisional yang riuh dan gemuruh.

Tentu saja ini tidak melulu menjadi salah manajemen hotel. Namun, sebagaimana setiap kesalahan, ia bersifat interaktif. Setelah cerita bom Bali, porsi tamu ke Bali memang banyak yang datang dari domestik dan tamu Asia. Namun dari segi pengelola hotel juga serupa, mentang-mentang tamunya tidak berambut coklat, kualitas penanganannya tidak seberadab dulu.

Ini terbalik dengan apa yang sedang terjadi di dunia perbankan. Sehingga bila dulu perbankan belajar pelayanan ke perhotelan, mungkin sekarang saatnya perhotelan belajar pelayanan dari perbankan. Sebagaimana dituturkan rapi sejarah, dulu uang  hanya lari ke pihak-pihak yang memegang kekuasaan atau kroni dekatnya. Sekarang, uang mulai banyak berputar di sekitar manusia yang mengutamakan pelayanan, kejujuran, rasa hormat pada orang lain. Jebolnya institusi keuangan di Barat mempercepat proses ini. Di Indonesia, ada perusahaan sawit yang kontrak penjualannya dibatalkan sejumlah perusahaan asing karena ditekan organisasi lingkungan Green Peace.

Ini menghadirkan daya tekan keras untuk merubah peradaban dimulai dari dunia korporasi. Dalam bahasa novelis  Thomas Hardy: “Hidup adalah kesempatan untuk belajar, melayani dan mencintai”. Awalnya, mencintai dan melayani seperti mengorbankan sesuatu buat orang lain. Ada ketidakrelaan di sana karena berkorban. Namun, ketika mencintai dan melayani dilakukan terus menerus penuh ketulusan, perasaan berkorbannya menghilang, yang muncul hanyalah senyuman yang membahagiakan.

Tidak saja bibir kita yang tersenyum, seluruh isi semesta terlihat tersenyum. Rumput hijau, bunga mekar, langit biru, samudera luas, bahkan isteri cerewet pun terlihat mewakili senyuman semesta. Bukankah istri cerewet hanyalah bel kesadaran untuk senantiasa sabar dan rendah hati?

Inilah kehidupan yang pintunya sudah terbuka. Di titik ini, tidak lagi diperlukan keluhan apa lagi perkelahian. Semuanya hanya putaran waktu yang melukis keindahan. Sesederhana air di sungai, ia tidak saja sedang pulang ke rumah samudera, namun di perjalanan juga melukis keindahan.

"http://gedeprama.blogdetik.com/2012/02/06/membuka-pintu-kehidupan/"

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More